««•»»إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ
««•»»
innaa ja'alnaa fii a'naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna
««•»»
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
««•»»
Indeed We have put iron collars around their necks, which are up to the chins, so their heads are upturned[1].
[1] That is, they dwell in a state of blindness, defiance and arrogance in regard to the God-sent guidance and truth.
««•»»Kemudian dilukiskan sebuah perumpamaan bagi orang-orang yang tidak mau beriman itu, seolah-olah belenggu telah di pasang di leher mereka, tangan diangkat sampai ke atas dagu. Hal demikian menyebabkan muka mereka selalu tertengadah. Demikianlah gambaran orang yang tidak beriman, karena dia tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengambil perbandingan. Belenggu itu demikian eratnya, sehingga tidak memungkinkan kepalanya bergerak (mengangguk-angguk) sama sekali.
Di ayat lain di jumpai pula keterangan:
ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل آتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dan kebanggaan itu.
(QS. Al Mu'minuun [23]:31)
Menurut riwayat, ayat ini pada mulanya diturunkan sehubungan dengan niat Aba Jahal bersama dua orang rekannya berasal dari Bani Makhzum. Abu Jahal pernah bersumpah bila dia melihat Muhammad sedang salat di Baitulah, ia akan menjatuhkan batu besar ke atas kepalanya.
Demikianlah pada suatu hari dilihatnya Nabi sedang sujud di tangannya sudah tersedia batu yang cukup besar. Ketika batu itu diangkatnya dan akan dilemparkan ke arah Nabi, yang sedang sujud itu, ia jadi ragu-ragu dan batu itu terlepas dari kepalan tangannya. Abu Jahal kembali kepada kaumnya dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian ada pula seorang Bani Makhzum karena tertarik dengan cerita Abu Jahal, bermaksud pula melempar Nabi waktu beliau akan salat.
Ketika ia hendak melaksanakan niat jahatnya, Allah membutakan matanya. Ia kembali kepada kaumnya dalam keadaan buta, barulah ia mengenal siapa yang menegurnya waktu ia mendengar suara (orang yang memanggilnya). Dia menceritakan bahwa ketika hendak melaksanakan niatnya tiba-tiba muncul seekor binatang besar (unta?) yang siap hendak menerkamnya. Andaikata batu saya lemparkan juga, pastilah binatang itu menerkam saya.
Ada yang mengatakan bahwa makna belenggu di sini adalah arti majazi (kiasan). Jadi maksudnya belenggu (penghalang) yang menghalangi niat seseorang untuk beriman kepada Allah SWT.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka) tangan mereka disatukan dengan leher mereka dalam satu belenggu, karena pengertian lafal Al-Ghillu ialah mengikatkan kedua tangan ke leher (lalu tangan mereka) yaitu tangan-tangan mereka diangkat dan disatukan (ke dagu) mereka, lafal Adzqaan bentuk jamak dari lafal Dzaqanun yaitu tempat tumbuh janggut (maka karena itu mereka tertengadah) kepala mereka terangkat dan tidak dapat ditundukkan. Ini merupakan tamtsil, yang dimaksud ialah mereka tidak mau taat untuk beriman, dan mereka sama sekali tidak mau menundukkan kepalanya dalam arti kata tidak mau beriman.
««•»»
Indeed We have put fetters around their necks, to bind to them their hands (because ghull [is a fetter that] shackles the hands to the neck), such that they, the hands, are, bound, up to the chins (adhqān is the plural of dhaqan, which is where the two sides of the beard meet) so that their heads are upturned, they are unable to lower them: this [statement] is figurative and is meant to indicate their inability to yield to faith or to lower their heads to it.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 7]•[AYAT 9]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#36:8

Tidak ada komentar:
Posting Komentar