««•»»إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
««•»»
innaa nahnu nuhyii almawtaa wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syay-in ahsaynaahu fii imaamin mubiinin
««•»»
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
««•»»
Indeed it is We who revive the dead and write what they have sent ahead[1] and their effects [which they left behind],[2] and We have figured everything in a manifest Imam.[3]
[1] That is, the deeds they have done.
[2] That is, the good or evil heritage and imprint they leave behind in the society in which they have lived, and which outlive them.
[3] Or, in a manifest book.
««•»»[2] That is, the good or evil heritage and imprint they leave behind in the society in which they have lived, and which outlive them.
[3] Or, in a manifest book.
Kemudian disebutkan pula bahwa orang harus merasa takut (takwa) kepada Tuhannya, yaitu karena Allah akan menghidupkan kembali sekalian orang yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya masing-masing pada Hari Akhirat. Ketika itu manusia memperoleh buka amalan dari seluruh perbuatan, baik besar maupun kecil, yang pernah dikerjakan di atas dunia dahulu. Tiada satu pun perbuatan yang ketinggalan akan tetapi semuanya tertulis dalam buku itu dengan penuh ketelitian.
Alquran menyatakan:
ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين مما فيه ويقولون ياويلتنا مال هذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها ووجدوا ما عملوا حاضرا ولا يظلم ربك أحدا
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah, ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.
(QS. Al Kahfi [18]:49)
Tidak hanya amalan mereka yang tertulis dalam buku itu, akan tetapi menurut ayat ini juga segala amal suri teladan yang mereka tinggalkan, yang orang banyak masih memanfaatkannya setelah ia meninggal dunia, seperti ilmu pengetahuan yang diajarkannya, harta benda yang diwaqafkannya, rumah sakit yang didirikannya guna kesehatan masyarakat.
Demikian pula bekas-bekas amal jahatnya yang ditinggalkan seperti fitnah yang pernah ditebarkannya sehingga orang-orang saling berselisih atau pecah belah akibat fitnah atan kesan dari fitnah itu. Ringkasnya setiap amal atau perbuatan yang menimbulkan bekas atau kesan, baik kesan yang bermanfaat atau yang menimbulkan mudarat, akan tertulis semua dalam buku amalan itu.
Ayat ini sejalan dengan sebuah sabda Rasulullah Yang berbunyi:
من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها ومن بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئا. ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها ومن بعده لا ينقص من أوزارهم شيئا. ثم تلا ونكتب ما قدموا وأثارهم.
Barangsiapa yang membuat tradisi (kebiasaan) yang baik ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudah ia meninggal tanpa dikurangi sedikitpun jua. Dan barangsiapa yang membuat suatu tradisi (kebiasaan) yang jahat, ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah (ia) meninggal dunia tanpa dikurangi sedikitpun jua. Kemudian Rasulullah membaca ayat Wanaktubu maqaddamu wa asaruhum (dan) Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(H.R. Bukhari dari Musa Al Asy'ari)
Sehubungan dengan makna "Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan", Imam Tirmizi meriwayatkan sebuah kisah seperti yang dimuat oleh Ibnu Kasir dalam tafsirnya sebagai berikut:
Dari riwayat ini dikisahkan, bahwa ada orang-orang dari Bani Salaman tinggal di pinggiran kota Madinah. Mereka merasa betapa jauhnya tempat kediaman mereka dari mesjid (Mesjid Nabi). Agar mereka dapat datang berjemaah lebih awal untuk mengejar keutamaan salat berjemaah, mereka berniat untuk memindahkan rumah mereka ke daerah sekitar mesjid, maka turunlah ayat ini. Setelah Rasulullah memanggil mereka itu, beliaupun bersabda: "Niatmu yang balk itu akan ditulis". Akhirnya mereka tidak jadi pindah.
Ibnu Jarir meriwayatkan pula bahwa sebagian dari orang-orang Ansar berjauhan rumah mereka dari mesjid Rasulullah. Mereka berhasrat memindahkannya. Maka turunlah ayat ini. Akhirnya membatalkan maksud mereka Barangkali yang mendorong orang-orang Bani Salamah atau segolongan sahabat Ansar hendak memindahkan rumah mereka itu, adalah oleh karena Nabi menyatakan "salat jemaah itu 27 kali lipat pahalanya dibanding dengan salat yang dikerjakan sendirian".
Rasulullah bersabda:
أعظم الناس أجرا في الصلاة أبعدهم مشى والذي ينتظر الصلاة حتى يصليها مع الإمام عظيم أجرا من الذي يصلي ثم ينام.
Manusia yang paling banyak menerima pahala salat ialah orang yang paling jauh (rumahnya dan mesjid) dan mereka berjalan kaki, dan orang yang menanti kedatangannya (waktu) salat sehingga mengerjakannya bersama iman (dengan berjemaah), lebih besar pahalanya dari pada orang yang mengerjakan salat (sendiri) kemudian ia tidur.
Kemudian lebih ditegaskan lagi, tidak hanya amal Bani Adam yang tertulis dalam buku itu dengan rapih, teliti dan menyeluruh, akan tetapi apa yang terjadi di permukaan bumi ini, pasti tercatat dengan teliti.
Menurut penjelasan ahli tafsir yang dimaksud dengan "Imamiim mubin" (kitab induk yang nyata) ialah Lohmahfuz.
Ayat ini diperkuat lagi dengan keterangan ayat-ayat lain yang berbunyi:
قال علمها عند ربي في كتاب لا يضل ربي ولا ينسى
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lohmahfuz), Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa".
(QS. Thahaa [20]:52)
Dan ayat:
وكل صغير وكبير مستطر
Dan (segala) urusan yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
(QS. Al mQamar [54]:53)
Demikian penjelasan ayat-ayat di atas yang memastikan datangnya Hari Kiamat, di mana manusia akan menerima balasan dari semua amal usahanya, baik jahat maupun baik. Dari ayat ini dapatlah dipahami bahwa kabar gembira berupa magfirah dan surga bagi orang yang takwa kepada Tuhan dan mengikuti petunjuk Alquran di tetapkan Allah nanti setelah hari berbangkit.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati) yakni menghidupkannya kembali (dan Kami menuliskan) di Lohmahfuz (apa yang telah mereka kerjakan) selama hidup di dunia berupa kebaikan dan keburukan, lalu Kami membalasnya kepada mereka (dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) hal-hal yang dijadikan panutan dari perbuatan mereka sesudah mereka tiada (serta segala sesuatu) dinashabkannya lafal Kulla oleh pengaruh Fiil atau kata kerja yang menjelaskannya, yaitu kalimat berikutnya (Kami catat) Kami kumpulkan satu persatu secara mendetail (di dalam kitab induk yang nyata) yaitu di Lohmahfuz.
««•»»
Truly it is We Who bring the dead to life, for the resurrection, and record, in the Preserved Tablet, what they have sent ahead, during their lives, of good or evil, that they may be requited for it, and their vestiges, what conduct was followed after them as good practice. And everything (kulla shay’in is in the accusative because of the verb that governs it [and is the following]) We have numbered, We have recorded precisely, in a clear register, a clear Book, namely, the Preserved Tablet.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Imam Thabrani mengetengahkan pula hadis yang serupa bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis yang dinilainya sebagai hadis sahih asalnya dari sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Ashi ibnu Wail datang kepada Rasulullah saw. membawa tulang yang telah rapuh. Sesampainya di hadapan Rasulullah saw., ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, "Hai Muhammad! Apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupkan lagi kelak?"
Rasulullah saw. menjawab,
"Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam."
Kemudian turunlah ayat ini, "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani ..." (QS. Yaasiin [36]:77) sampai akhir surah ini.
Ibnu Abi Hatim mengetengahkan pula hadis ini melalui jalur yang berasal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah ibnu Zubair dan As Saddi. Di dalam hadis ini mereka menyebutkan bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay ibnu Khalaf
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 11]•[AYAT 13]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#36:12
•[AYAT 11]•[AYAT 13]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#36:12

Tidak ada komentar:
Posting Komentar