Selasa, 21 April 2015

[036] Yaasiin Ayat 016

««•»»
Surah Yaa siin 16

قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ
««•»»
qaaluu rabbunaa ya'lamu innaa ilaykum lamursaluuna
««•»»
Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu".
««•»»
They said, ‘Our Lord knows that we have indeed been sent to you,
««•»»

Pandangan demikian dibantah oleh utusan-utusan itu. Hanya Allah yang mengetahui bahwa kami ini sungguh-sungguh adalah orang yang diutus kepada kamu. Bilamana kami bohong azab yang hebatlah yang akan menimpa kami", jawab mereka dengan tegas. Tugas kami ini akan dibantu oleh Tuhan, dan pasti akan diketahui kelak siapa yang bersalah dan harus menanggung resiko atas kesalahan itu.

Dalam ayat lain jawaban seperti itu memang bisa diucapkan oleh seorang Rasul misalnya:
ويستعجلونك بالعذاب ولولا أجل مسمى لجاءهم العذاب وليأتينهم بغتة وهم لا يشعرون
Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba sedang mereka tidak menyadarinya.
(QS. Al Ankabuut [29]:53)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Mereka berkata, "Rabb kami mengetahui) kalimat ayat ini mengandung makna qasam, kemudian pengukuhannya ditambah dengan adanya huruf Lam pada lafal Lamursaluuna, sebagai sanggahan terhadap perkataan mereka (bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian.)
««•»»
They said, ‘Our Lord knows (qālū rabbunā ya‘lamu functions like an oath. Emphasis is intensified by this [oath] and also by the [addition of the] lām to what was before [simply, mursalūna, ‘we have been sent’] to counter their intensified denial) that we have indeed been sent to you [by Him]!
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 15][AYAT 17]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
16of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=16&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:16

[036] Yaasiin Ayat 015

««•»»
Surah Yaa siin 15

قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَمَا أَنْزَلَ الرَّحْمَنُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ
««•»»
qaaluu maa antum illaa basyarun mitslunaa wamaa anzala alrrahmaanu min syay-in in antum illaa takdzibuuna
««•»»
Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka".
««•»»
They said, ‘You are nothing but humans like us, and the All-beneficent has not sent down anything, and you are only lying.’
««•»»

Kemudian disebutkan alasan pokok kaumnya tidak mau beriman kebanyakan orang-orang yang mendustakan ketiga orang utusan itu, karena mereka berkeyakinan ketiga utusan itu (Yuhana, Bulis dan Syam'un) itu adalah manusia biasa saja seperti mereka juga, tanpa ada keistimewaan yang menonjol. Waktu itu (mungkin juga sekarang), seseorang tiada akan dihargai kalau tidak mempunyai kepandaian atau keahlian yang istimewa luar biasa.

Alasan kedua, karena mereka yakin bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih tidaklah menunaikan risalah ataupun kitab yang berisi wahyu dan Dia tidak pula memerintahkan untuk beriman dengan ketiga utusan itu. Oleh karena itu mereka menyimpulkan ketiga utusan itu bohong belaka. Lafal "ma anzalar rahmanu", menunjukkan bahwa penduduk Antakiyah itu telah lama mengenal Tuhan, cuma mereka mengingkarinya dan digantinya dengan berhala. Sebab itulah segala Rasul-rasul mereka tolak.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Mereka menjawab, "Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun. Tidak lain) (kalian hanyalah pendusta belaka.")
««•»»
They said, ‘You are nothing but humans like us, and the Compassionate One has revealed nothing. You are only lying!’
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 14][AYAT 16]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
15of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=15&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:15

[036] Yaasiin Ayat 014

««•»»
Surah Yaa siin 14

إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُمْ مُرْسَلُونَ
««•»»
idz arsalnaa ilayhimu itsnayni fakadzdzabuuhumaa fa'azzaznaa bitsaalitsin faqaaluu innaa ilaykum mursaluuna
««•»»
(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya kami adalah orang-orang di utus kepadamu".
««•»»
When We sent to them two [apostles], they impugned both of them. Then We reinforced them with a third, and they said, ‘We have indeed been sent to you.’
««•»»

Oleh karena kedua utusan itu tidak berhasil melaksanakan misinya, dikirim lagi seorang yang bernama Syam'un dengan tugas yang sama. Risalah yang mereka bawa adalah supaya penduduk Antakiyah itu mau membersihkan dirinya dari perbuatan syirik, supaya mereka melepaskan (membuang) segala bentuk sesembahannya, dan kemudian kembali kepada ajaran tauhid.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya) ayat ini seluruhnya berkedudukan sebagai Badal dari lafal Idz yang pertama (kemudian Kami kuatkan) kedua utusan itu; lafal ayat ini dapat dibaca Takhfif sehingga bunyinya menjadi Fa'azaznaa dapat pula dibaca Tasydid, sehingga bunyinya menjadi Fa'azzaznaa (dengan -utusan- yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepada kalian.")
««•»»
When We sent to them two men, and they denied them both (from idh arsalnā ilayhim ithnayni fa-kadhdhabūhumā to the end is a substitution for the previous idh, ‘when’), so We reinforced [them] (read fa-‘azaznā or fa-‘azzaznā, in other words, We reinforced the two men) with a third, and they said, ‘We have indeed been sent to you [by God]’.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 13][AYAT 15]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
14of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=14&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:14

Kamis, 09 April 2015

[036] Yaasiin Ayat 013

««•»»
Surah Yaa siin 13

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ
««•»»
waidhrib lahum matsalan ash-haaba alqaryati idz jaa-ahaa almursaluuna
««•»»
Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka.
««•»»
Cite for them the example of the inhabitants of the town when the apostles came to it.
««•»»

Allah menyuruh Nabi Muhammad untuk menceritakan kepada kaum musyrik Quraisy dan sekaligus kepada kaum yang mendustakan risalahnya tentang riwayat Ashabu1 Qaryah sebagai pengajaran intisari dari kisah itu menyatakan siapa saja yang mendustakan Rasul akan mengalami nasib malang seperti apa yang dialami oleh Ashabul Qaryah. Rasul yang diutus kepada mereka adalah dua orang utusan Nabi Isa yang bernama Yuhana dan Bulis seperti disebutkan di atas.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan buatlah) adakanlah (buat mereka suatu perumpamaan) lafal Matsalan adalah Maf'ul Awal (yaitu penduduk) lafal Ashhaaba ini menjadi Maf'ul yang kedua (suatu negeri) yaitu kota Inthakiah (ketika datang kepada mereka) lafal ayat ini sampai akhir ayat berkedudukan menjadi Badal Isytimal dari lafal Ashhaabal Qaryah (utusan-utusan) utusan-utusan Nabi Isa.
««•»»
And strike for them as a similitude (mathalan is the first direct object) the inhabitants (ashāba is the second direct object) of the town, [of] Antioch (Antākya), when the messengers, namely, Jesus’s disciples, came to it (idh jā’ahā’l-mursalūna is an inclusive substitution for ashāba’l-qaryati, ‘the inhabitants of the town’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 12][AYAT 14]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
13of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=13&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:13

[036] Yaasiin Ayat 012

««•»»
Surah Yaa siin 12

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ
««•»»
innaa nahnu nuhyii almawtaa wanaktubu maa qaddamuu waaatsaarahum wakulla syay-in ahsaynaahu fii imaamin mubiinin
««•»»
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
««•»»
Indeed it is We who revive the dead and write what they have sent ahead[1] and their effects [which they left behind],[2] and We have figured everything in a manifest Imam.[3]
[1] That is, the deeds they have done.
[2] That is, the good or evil heritage and imprint they leave behind in the society in which they have lived, and which outlive them.
[3] Or, in a manifest book.
««•»»

Kemudian disebutkan pula bahwa orang harus merasa takut (takwa) kepada Tuhannya, yaitu karena Allah akan menghidupkan kembali sekalian orang yang telah mati dan membangkitkan mereka dari kuburnya masing-masing pada Hari Akhirat. Ketika itu manusia memperoleh buka amalan dari seluruh perbuatan, baik besar maupun kecil, yang pernah dikerjakan di atas dunia dahulu. Tiada satu pun perbuatan yang ketinggalan akan tetapi semuanya tertulis dalam buku itu dengan penuh ketelitian.

Alquran menyatakan:
ووضع الكتاب فترى المجرمين مشفقين مما فيه ويقولون ياويلتنا مال هذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة إلا أحصاها ووجدوا ما عملوا حاضرا ولا يظلم ربك أحدا
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah, ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya. dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya, dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun.
(QS. Al Kahfi [18]:49)

Tidak hanya amalan mereka yang tertulis dalam buku itu, akan tetapi menurut ayat ini juga segala amal suri teladan yang mereka tinggalkan, yang orang banyak masih memanfaatkannya setelah ia meninggal dunia, seperti ilmu pengetahuan yang diajarkannya, harta benda yang diwaqafkannya, rumah sakit yang didirikannya guna kesehatan masyarakat.

Demikian pula bekas-bekas amal jahatnya yang ditinggalkan seperti fitnah yang pernah ditebarkannya sehingga orang-orang saling berselisih atau pecah belah akibat fitnah atan kesan dari fitnah itu. Ringkasnya setiap amal atau perbuatan yang menimbulkan bekas atau kesan, baik kesan yang bermanfaat atau yang menimbulkan mudarat, akan tertulis semua dalam buku amalan itu.

Ayat ini sejalan dengan sebuah sabda Rasulullah Yang berbunyi:
من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها ومن بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيئا. ومن سن سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها ومن بعده لا ينقص من أوزارهم شيئا. ثم تلا ونكتب ما قدموا وأثارهم.
Barangsiapa yang membuat tradisi (kebiasaan) yang baik ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudah ia meninggal tanpa dikurangi sedikitpun jua. Dan barangsiapa yang membuat suatu tradisi (kebiasaan) yang jahat, ia memikul dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya setelah (ia) meninggal dunia tanpa dikurangi sedikitpun jua. Kemudian Rasulullah membaca ayat Wanaktubu maqaddamu wa asaruhum (dan) Kami menuliskan apa-apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan.
(H.R. Bukhari dari Musa Al Asy'ari)

Sehubungan dengan makna "Dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan", Imam Tirmizi meriwayatkan sebuah kisah seperti yang dimuat oleh Ibnu Kasir dalam tafsirnya sebagai berikut:

Dari riwayat ini dikisahkan, bahwa ada orang-orang dari Bani Salaman tinggal di pinggiran kota Madinah. Mereka merasa betapa jauhnya tempat kediaman mereka dari mesjid (Mesjid Nabi). Agar mereka dapat datang berjemaah lebih awal untuk mengejar keutamaan salat berjemaah, mereka berniat untuk memindahkan rumah mereka ke daerah sekitar mesjid, maka turunlah ayat ini. Setelah Rasulullah memanggil mereka itu, beliaupun bersabda: "Niatmu yang balk itu akan ditulis". Akhirnya mereka tidak jadi pindah.

Ibnu Jarir meriwayatkan pula bahwa sebagian dari orang-orang Ansar berjauhan rumah mereka dari mesjid Rasulullah. Mereka berhasrat memindahkannya. Maka turunlah ayat ini. Akhirnya membatalkan maksud mereka Barangkali yang mendorong orang-orang Bani Salamah atau segolongan sahabat Ansar hendak memindahkan rumah mereka itu, adalah oleh karena Nabi menyatakan "salat jemaah itu 27 kali lipat pahalanya dibanding dengan salat yang dikerjakan sendirian".

Rasulullah bersabda:
أعظم الناس أجرا في الصلاة أبعدهم مشى والذي ينتظر الصلاة حتى يصليها مع الإمام عظيم أجرا من الذي يصلي ثم ينام.
Manusia yang paling banyak menerima pahala salat ialah orang yang paling jauh (rumahnya dan mesjid) dan mereka berjalan kaki, dan orang yang menanti kedatangannya (waktu) salat sehingga mengerjakannya bersama iman (dengan berjemaah), lebih besar pahalanya dari pada orang yang mengerjakan salat (sendiri) kemudian ia tidur.

Kemudian lebih ditegaskan lagi, tidak hanya amal Bani Adam yang tertulis dalam buku itu dengan rapih, teliti dan menyeluruh, akan tetapi apa yang terjadi di permukaan bumi ini, pasti tercatat dengan teliti.

Menurut penjelasan ahli tafsir yang dimaksud dengan "Imamiim mubin" (kitab induk yang nyata) ialah Lohmahfuz.

Ayat ini diperkuat lagi dengan keterangan ayat-ayat lain yang berbunyi:
قال علمها عند ربي في كتاب لا يضل ربي ولا ينسى
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah Kitab (Lohmahfuz), Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa".
(QS. Thahaa [20]:52)

Dan ayat:
وكل صغير وكبير مستطر
Dan (segala) urusan yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.
(QS. Al mQamar [54]:53)

Demikian penjelasan ayat-ayat di atas yang memastikan datangnya Hari Kiamat, di mana manusia akan menerima balasan dari semua amal usahanya, baik jahat maupun baik. Dari ayat ini dapatlah dipahami bahwa kabar gembira berupa magfirah dan surga bagi orang yang takwa kepada Tuhan dan mengikuti petunjuk Alquran di tetapkan Allah nanti setelah hari berbangkit.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati) yakni menghidupkannya kembali (dan Kami menuliskan) di Lohmahfuz (apa yang telah mereka kerjakan) selama hidup di dunia berupa kebaikan dan keburukan, lalu Kami membalasnya kepada mereka (dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan) hal-hal yang dijadikan panutan dari perbuatan mereka sesudah mereka tiada (serta segala sesuatu) dinashabkannya lafal Kulla oleh pengaruh Fiil atau kata kerja yang menjelaskannya, yaitu kalimat berikutnya (Kami catat) Kami kumpulkan satu persatu secara mendetail (di dalam kitab induk yang nyata) yaitu di Lohmahfuz.
««•»»
Truly it is We Who bring the dead to life, for the resurrection, and record, in the Preserved Tablet, what they have sent ahead, during their lives, of good or evil, that they may be requited for it, and their vestiges, what conduct was followed after them as good practice. And everything (kulla shay’in is in the accusative because of the verb that governs it [and is the following]) We have numbered, We have recorded precisely, in a clear register, a clear Book, namely, the Preserved Tablet.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Thabrani mengetengahkan pula hadis yang serupa bersumber dari sahabat Ibnu Abbas r.a. Imam Hakim mengetengahkan sebuah hadis yang dinilainya sebagai hadis sahih asalnya dari sahabat Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa Ashi ibnu Wail datang kepada Rasulullah saw. membawa tulang yang telah rapuh. Sesampainya di hadapan Rasulullah saw., ia meremas-remas tulang itu hingga hancur, seraya berkata, "Hai Muhammad! Apakah tulang yang telah hancur ini akan dihidupkan lagi kelak?"

Rasulullah saw. menjawab,
"Ya, Allah pasti akan menghidupkannya kembali, kemudian Dia akan mematikanmu dan menghidupkanmu kembali, selanjutnya Dia akan memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam."

Kemudian turunlah ayat ini, "Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air mani ..." (QS. Yaasiin [36]:77) sampai akhir surah ini.

Ibnu Abi Hatim mengetengahkan pula hadis ini melalui jalur yang berasal dari Mujahid, Ikrimah, Urwah ibnu Zubair dan As Saddi. Di dalam hadis ini mereka menyebutkan bahwa orang yang membawa tulang tersebut adalah Ubay ibnu Khalaf
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 11][AYAT 13]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
12of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=12&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:12

[036] Yaasiin Ayat 011

««•»»
Surah Yaa siin 11

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
««•»»
innamaa tundziru mani ittaba'a aldzdzikra wakhasyiya alrrahmaana bialghaybi fabasysyirhu bimaghfiratin wa-ajrin kariimin
««•»»
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan {1265} dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
{1265} Maksudnya peringatan yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. hanyalah berguna bagi orang yang mau mengikutinya.
««•»»
You can only warn someone who follows the Reminder[That is, the Qurʾān.] and fears the All-beneficent in secret; so give him the good news of forgiveness and a noble reward.
««•»»

Allah menjelaskan bahwa orang yang dapat menerima petunjuk Nabi Muhammad saw ialah orang yang menerima petunjuk dan takut mendengar ancaman tersebut, yakni orang-orang yang beriman pada Alquran dan mau melaksanakan pedoman yang telah digariskannya. Mereka merasa sadar, gentar dan ngeri bila mendengar ancaman dan siksaan Allah. Allah Maha Besar Rahmat-Nya dan Maha Pedih siksa-Nya,

sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:
نبئ عبادي أني أنا الغفور الرحيم وإن عذابي هو العذاب الأليم
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.
(QS. Al Hajj [22]:49-50)

Kepada Nabi Muhammad saw. Allah memerintahkan supaya mereka diberi kabar gembira bahwa mereka akan mendapat magfirah (keampunan) dan pahala yang mulia, yaitu nikmat yang abadi yang tidak dapat dilukiskan, tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan terlintas dalam hati.

Ayat lain menyatakan.
إن الذين يخشون ربهم بالغيب لهم مغفرة وأجر كبير
Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Tuhannya yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
(QS. Al Mulk [67]:12)

Maksud "takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun tidak melihatnya", ialah melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya di saat ada atau tidak adanya orang yang mengetahuinya, atau ia bertakwa kepada Allah baik waktu ia sendirian maupun bersama orang lain. Orang-orang beriman dan berkepribadian seperti di ataslah yang diberi Allah kabar gembira melalui Nabi Muhammad saw. Kabar gembira itu adalah bahwa segala dosa yang pernah mereka kerjakan akan diampuni Allah dengan magfirah-Nya, dan akan menikmati suatu pahala yang mulia yakni surga yang luasnya seluas langit dan bumi,

seperti yang dinyatakan oleh ayat:
وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السماوات والأرض أعدت للمتقين
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan. dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(QS. Ali Imran [3]:133)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya Kamu hanya dapat memperingati) yakni akan dapat mengambil manfaat dari peringatanmu (orang yang mau mengikuti peringatan) petunjuk Alquran (dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun Dia tidak melihat-Nya) yakni ia tetap takut kepada-Nya sekalipun ia tidak melihat-Nya. (Maka berilah ia kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia) yaitu mendapat surga.
««•»»
You can only warn, in other words, your warning will only benefit, him who follows the Remembrance, the Qur’ān, and fears the Compassionate One in secret, who fears Him despite not having seen Him; so give him the good tidings of forgiveness and a noble reward, namely, Paradise.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 10][AYAT 12]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
11of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=11&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:11

[036] Yaasiin Ayat 010

««•»»
Surah Yaa siin 10

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
««•»»
wasawaaun 'alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu/minuuna
««•»»
Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
««•»»
It is the same to them whether you warn them or do not warn them, they will not have faith.
««•»»

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak bisa menerima petunjuk itu walaupun diancam Allah dengan siksaan yang keras ataupun tidak diancam namun semua pengajaran itu akan percuma saja. Sebab hati mereka sebenarnya sudah terpateri mati tidak dapat menerima petunjuk.

Hal yang demikian disebabkan pikiran mereka tidak sanggup lagi memikirkan kebenaran yang disampaikan orang, dan mata mereka sudah buta dari kebenaran itu. Ringkasnya siapa yang telah ditetapkan Allah kesesatannya tidak mungkin lagi bermanfaat bagi dirinya sendiri segala nasihat yang disampaikan orang.

Allah SWT berfirman:
إن الذين كفروا سواء عليهم ءأنذرتهم أم لم تنذرهم لا يؤمنون ختم الله على قلوبهم وعلى سمعهم وعلى أبصارهم غشاوة ولهم عذاب عظيم
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
(Q.S. Al Baqarah: 6-7)

Dan firman-Nya:

إن الذين حقت عليهم كلمت ربك لا يؤمنون
Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman.
(QS. Yunus [10]:96)

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka) dapat dibaca Tahqiq dan dapat pula dibaca Tas-hil (ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.)
««•»»
And it is the same to them whether you warn them (read a-andhartuhum, pronouncing both hamzas; or by substituting an alif for the second one; or by not pronouncing the second one but inserting an alif between the one not pronounced and the other one, or without [the insertion]) or do not warn them, they will not believe.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
klik ASBABUN NUZUL klik
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang diniliai nya sebagai hadis hasan, sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadis sahih, keduanya meriwayatkan hadis ini melalui sahabat Abu Said Al Khudri r.a. yang menceritakan bahwa orang-orang Bani Salamah tinggal di salah satu sudut kota Madinah.

Lalu mereka bermaksud untuk pindah ke tempat yang lebih dekat dengan Mesjid, maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya,
"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan."
(QS. Yaasiin [36]:12).

Kemudian Nabi saw. bersabda, "Sesungguhnya jejak-jejak kalian (dari rumah kalian ke mesjid untuk menunaikan salat) ditulis (pahalanya) oleh Allah, maka janganlah kalian pindah."
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 9][AYAT 11]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
10of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=10&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:10

[036] Yaasiin Ayat 009

««•»»
Surah Yaa siin 9

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
««•»»
waja'alnaa min bayni aydiihim saddan wamin khalfihim saddan fa-aghsyaynaahum fahum laa yubshiruuna
««•»»
Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
««•»»
And We have put a barrier before them and a barrier behind them, then We have blind-folded them, so they do not see.
««•»»

Kemudian digambarkan pula bahwa orang-orang yang tidak beriman itu memandang baik amal-amal jahat yang mereka kerjakan. Hal demikian menyebabkan mereka menjadi takjub dan sombong, sehingga mereka enggan mengikuti Rasul.

Pikirannya tertutup dari kebenaran, dari apa yang dapat mendatangkan manfaat, karena itu tidaklah ada yang bisa mereka pahami kecuali apa yang telah diwariskan dari nenek moyang mereka saja. Ringkasnya mereka selalu berada dalam penjara kebodohan, seolah-olah ada dinding tembok yang memisahkan mereka dengan hati mereka hingga tidak bisa berpikir dan merenungkan dalil-dalil kebenaran ajaran yang dibawa Rasul itu.

Ada pula yang mengartikan dinding yang menghalangi itu dengan hijab, hingga berarti Allah menjadikan hijab yang menghalangi orang-orang musyrik untuk menyakiti Rasul. Sedang mata yang tertutup diartikan, mereka tidak bisa mengindra dengan baik sesuatu yang dilihatnya, dan tidak satupun petunjuk yang dapat meluruskan pikiran mereka.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding) lafal Saddan dalam dua tempat tadi boleh dibaca Suddan (dan Kami tutup -mata- mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.) Ini merupakan tamtsil yang menggambarkan tertutupnya jalan iman bagi mereka.
««•»»
And We have set before them a barrier (read saddan or suddan in both instances) and behind them a barrier; so We have covered them, so they do not see — this is also figurative, depicting the way in which the paths of faith are closed to them.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 8][AYAT 10]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
9of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=9&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:9

[036] Yaasiin Ayat 008

««•»»
Surah Yaa siin 8

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ
««•»»
innaa ja'alnaa fii a'naaqihim aghlaalan fahiya ilaa al-adzqaani fahum muqmahuuna
««•»»
Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
««•»»
Indeed We have put iron collars around their necks, which are up to the chins, so their heads are upturned[1].
[1] That is, they dwell in a state of blindness, defiance and arrogance in regard to the God-sent guidance and truth.
««•»»

Kemudian dilukiskan sebuah perumpamaan bagi orang-orang yang tidak mau beriman itu, seolah-olah belenggu telah di pasang di leher mereka, tangan diangkat sampai ke atas dagu. Hal demikian menyebabkan muka mereka selalu tertengadah. Demikianlah gambaran orang yang tidak beriman, karena dia tidak dapat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengambil perbandingan. Belenggu itu demikian eratnya, sehingga tidak memungkinkan kepalanya bergerak (mengangguk-angguk) sama sekali.

Di ayat lain di jumpai pula keterangan:
ولو اتبع الحق أهواءهم لفسدت السماوات والأرض ومن فيهن بل آتيناهم بذكرهم فهم عن ذكرهم معرضون
Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka, tetapi mereka berpaling dan kebanggaan itu.
(QS. Al Mu'minuun [23]:31)

Menurut riwayat, ayat ini pada mulanya diturunkan sehubungan dengan niat Aba Jahal bersama dua orang rekannya berasal dari Bani Makhzum. Abu Jahal pernah bersumpah bila dia melihat Muhammad sedang salat di Baitulah, ia akan menjatuhkan batu besar ke atas kepalanya.

Demikianlah pada suatu hari dilihatnya Nabi sedang sujud di tangannya sudah tersedia batu yang cukup besar. Ketika batu itu diangkatnya dan akan dilemparkan ke arah Nabi, yang sedang sujud itu, ia jadi ragu-ragu dan batu itu terlepas dari kepalan tangannya. Abu Jahal kembali kepada kaumnya dan menceritakan apa yang terjadi. Kemudian ada pula seorang Bani Makhzum karena tertarik dengan cerita Abu Jahal, bermaksud pula melempar Nabi waktu beliau akan salat.

Ketika ia hendak melaksanakan niat jahatnya, Allah membutakan matanya. Ia kembali kepada kaumnya dalam keadaan buta, barulah ia mengenal siapa yang menegurnya waktu ia mendengar suara (orang yang memanggilnya). Dia menceritakan bahwa ketika hendak melaksanakan niatnya tiba-tiba muncul seekor binatang besar (unta?) yang siap hendak menerkamnya. Andaikata batu saya lemparkan juga, pastilah binatang itu menerkam saya.

Ada yang mengatakan bahwa makna belenggu di sini adalah arti majazi (kiasan). Jadi maksudnya belenggu (penghalang) yang menghalangi niat seseorang untuk beriman kepada Allah SWT.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka) tangan mereka disatukan dengan leher mereka dalam satu belenggu, karena pengertian lafal Al-Ghillu ialah mengikatkan kedua tangan ke leher (lalu tangan mereka) yaitu tangan-tangan mereka diangkat dan disatukan (ke dagu) mereka, lafal Adzqaan bentuk jamak dari lafal Dzaqanun yaitu tempat tumbuh janggut (maka karena itu mereka tertengadah) kepala mereka terangkat dan tidak dapat ditundukkan. Ini merupakan tamtsil, yang dimaksud ialah mereka tidak mau taat untuk beriman, dan mereka sama sekali tidak mau menundukkan kepalanya dalam arti kata tidak mau beriman.
««•»»
Indeed We have put fetters around their necks, to bind to them their hands (because ghull [is a fetter that] shackles the hands to the neck), such that they, the hands, are, bound, up to the chins (adhqān is the plural of dhaqan, which is where the two sides of the beard meet) so that their heads are upturned, they are unable to lower them: this [statement] is figurative and is meant to indicate their inability to yield to faith or to lower their heads to it.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

[AYAT 7][AYAT 9]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
8of83
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=36&tAyahNo=8&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#36:8